Bota Bujak

Bota Bujak
Ataili, kampung kecil, unik, menyimpan banyak misteri. Kekayaan warisan budaya, adat istiadat didaur ulang sehingga menjadi ramuan yang berguna demi kehidupan bersama. Ola glekat lewotana adalah kewajiban setiap anak tanah. Kritik sosial penting untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam era arus globalisasi. Tulis apa adanya, jangan menipu (bahasa lokal: akalbae).

April 22, 2013

ORANG ATAILI


Menurut "Orang Ataili", menyebut "orang Ataili" adalah tautologi. Meskipun tautologi tetap disebut "orang Ataili" karena orang di luar penduduk asli Ataili tidak mengerti arti kata Ataili. Kata "Ata" artinya orang dan  "ili" artinya: gunung. Jadi mengatakan  "orang Ataili" adalah pemborosan kata. Kami tetap mengatakan "Orang Ataili" untuk mempermudah pembaca di luar penduduk asli Ataili. 

Jadi Ataili artinya "orang gunung". Menyebut Orang Gunung indentik dengan keterbelakangan, jarang pergi kota. Nenek moyang kami memang tinggal di gunung. Alasannya, gunung menjadi tempat persembunyian pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Pada Zaman penjajahan Belanda kita kenal adanya "politik de vide et impera" artinya memecahbelakan persatuan mereka sehingga mudah dikuasai. Penjajah Belanda menerapkan politik itu di wilayah pantai selatan Lembata dengan mengadu domba penduduk asli. Mereka mengadu domba antara "Paji" dan "Demong". Orang Ataili termasuk dalam kelompok Demong. Banyak orang menjadi korban perang antara Paji dan Demong. Orang Ataili lari ke gunung dan tinggal di sana juga karena menghindar perang suku ini. 
Pada Zaman Kemerdekaan setelah tahun 1945,  orang Ataili mulai turun gunung dan membuat kampung baru dengan nama "Onga Lere". Nama ini tidak dipakai lagi melainkan mereka mempertahankan nama asli "Ataili". Persoalannya: Apakah dengan turun gunung orang Ataili menikmati kemajuan? Banyak  orang menganggap bahwa keindahan dan kemajuan tercapai ketika orang berada di puncak gunung. Kitab Injil membenarkan bahwa tiga orang rasul bahagia ketika mereka melihat penampakan Mulia Tuhan Yesus. Mereka bahagia dan tidak mau turun gunung malahan  mereka ingin membuat kemah dan tinggal di sana. Orang Ataili malahan tidak betah tinggal di atas gunung. Kampung paling terbelakang dari kemajuan-kemajuan dunia. Keterbelakangan ini tentunya tidak tersentuh oleh pembangunan pemerintah. 
Sudut pandang "orang gunung" identik dengan keterbelakangan, orang udik apakah masih layak disandang orang Ataili?  Bagaimana suka duka membangun kampung sendiri sampai saat ini? Semuanya  akan dibahas pada postingan berikutnya. Saya tetap mencintai kampung saya  "ATAILI"