Bota Bujak

Bota Bujak
Ataili, kampung kecil, unik, menyimpan banyak misteri. Kekayaan warisan budaya, adat istiadat didaur ulang sehingga menjadi ramuan yang berguna demi kehidupan bersama. Ola glekat lewotana adalah kewajiban setiap anak tanah. Kritik sosial penting untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik dalam era arus globalisasi. Tulis apa adanya, jangan menipu (bahasa lokal: akalbae).

June 10, 2013

SISTEM PERTANIAN DI ATAILI LEMBATA


Saya tahu karena pernah bekerja membantu orang tua bekerja di ladang. Orang di kampung memakai sistem ladang berpindah-pindah. Di Ataili, kampung saya, mereka membedakan atas dua jenis lahan. Pertama “eka ilin” artinya ladang di gunung dengan catatan sedikit curah hujan bisa berhasil karena menghandalkan embun dan kedua, “eka gerok” lahan kering semata-mata menghandalkan hujan karena cuaca sangat panas. Eka ilin cepat berbuah, eka gerok lambat berbuah. Sulit ditebak mana berhasil bergantung curah hujan dan hama, angin ribut yang bisa membuat  gagal panen. Oleh karena itu, setiap keluarga paling tidak memiliki dua ladang yakni “eka gerok dan eka ilin”.
Caranya sama, sudah menjadi warisan turun temurun. Pertama, menebas dan menebang.  Ini adalah pekerjaan berat apalagi membuka hutan lebat. Tiap hari bekerja tanpa membedakan panas dan dingin. Selesai menebas barulah ada musim membakar ladang. Setelah membakar mereka membuat pematang dalam bahasa daerah Ataili “padak bliko”.  Semua orang pulang dari ladang dengan badannya penuh arang dan hampir tidak dikenal orangnya. Memang lucu tetapi itulah pekerjaan. Jika ada hujan barulah mereka menanam. Setelah itu ada sedikit waktu jedah menunggu musim merumput. Diperkirakan 2 atau tiga kali merumput ladang sampai ada hasilnya. Ada dua kemungkinan gagal panen atau panen berhasil. Jika berhasil mereka akan senang pergi ke ladang memanen hasil pertanian.
Masyarakat bekerja keras menunggu setahun barulah bisa menikmati hasil pekerjaan. Mereka harus membuat penghematan sehingga stok makanan mencukupi kebutuhan keluarga dalam satu tahun ke depan. Sementara itu mereka mulai bekerja lagi mempersiapak lahan untuk tahun berikutnya.
Apa yang terjadi selama ini adalah gagal panen sehingga stok makanan selalu kurang. Mereka harus mencari pekerjaan tambahan di luar dalam bahasa daerah ataili “poi doi”.
Pemerintah daerah Lembata seharusnya tahu kesulitan masyarakat di pedesaan tetapi membuat diri seolah-olah tidak tahu. Berita gagal panen di Lembata senantiasa mewarnai koran-orang dan pemerintah menutup mata. Belum lagi berita busung lapar. Sungguh sangat menyedihkan. Pemerintah harus sedikit pandai membaca peluang usaha di Lembata sebagai alternatif lain buat pendapatan masyarakat setempat. Kebayakan hanya bagi-bagi proyek yang tidak jelas sementara masyarakat tidak menikmati sedikitpun hasil dari proyek2 prematur seperti Wakatobi.